• 28

    Aug

    [Monolog] Ketika Kita Ada di Persimpangan Jalan

    Ternyata kita sudah sampai disini, setelah sekian lama kita menempuh perjalanan dengan berbagai macam liku dan suasananya. Kadang menakjubkan, tapi sedikit banyak juga membuat kita saling bertautan jiwa dan hati. Ya, seperti inilah hidup. Penuh dengan liku-liku yang kadang tak pernah kita mengerti. Mungkin Tuhan memang mengistimewakannya untuk kita. Dan kita, telah benar-benar melaluinya dengan indah. Atau mungkin sebagian dari kita menganggap ini adalah perjalanan busuk yang tak patut dinikmati ataupun dihayati. Entah seperti apa pendapatmu, bagiku ini adalah sebuah perjalanan yang patut dihayati dan dimaknai.Karena sesuatu akan terasa indah dan bermanfaat bila kita bisa memaknainya dengan tulus. Bagaimana kawan? Apakah kau masih menganggap ini adalah perjalanan yang busuk? Serahkan saja
  • 27

    Aug

    [Monolog] Apakah Aku Masih di Bumi?

    Kawan, apa kabarmu? Bagaimana warna hidupmu hari ini? Sudah cukup berwarna kah? Sepertinya aku butuh meminjam warnamu untuk kehidupanku. Bolehkah? Apakah kau tahu, dimana aku berada saat ini? Akan kuceritakan padamu tentang suatu hal. Ya, sesuatu telah terjadi padaku. Pahamilah surat ini, dan akan tahu apa yang harus dilakukan. Kawan, aku sekarang terdampar di sebuah tempat yang tak kuketahui dengan jelas. Entahlah, aku tak tahu ini tempat apa. Aku sendiri takut untuk menebak. Semoga saat ini aku sedang bermimpi. Aku tak pernah berharap berada di tempat seperti ini. Doakan aku segera terbangun dari mimpi panjang yang melelahkan ini. Seseorang memukulku dari belakang kemudian aku tak lagi ingat apa yang telah terjadi. Semua menjadi gelap, dingin dan sunyi. Desau angin panas membuatku terb
  • 5

    Jun

    Monolog : Jika Kami Tak Pernah Pulang

    Kulihat jam dinding dengan malas. Sepertinya, ia juga bosan. Entah sudah berapa kali aku mamandanginya dengan cemas. Sudah masuk dini hari dan yang kutunggu belum juga datang. Sepertinya, firasat buruk yang beberapa hari ini kurasakan memang telah terjadi. Suara detak jam dinding, menguasai pikiranku. Sama kerasnya dengan detak jantung yang kian memacu, seolah membuat sekujur tubuhku menggigil. Sudah 4 mug besar kopi pahit kutenggak habis. Namun, semua itu tak mampu menuntaskan kegelisahan yang kian merembulan. Ada apa ini? Sekali ini saja Tuhan, jangan membuatku gelisah. Kutatap cermin kusam di pojok kamar dekat jendela tak berkaca. Suramnya sama dengan cahaya kamarku yang remang-remang. Tak ada siapapun disini. Hanya aku, mug kotor bekas kopi, buku-buku, seperangkat komputer butut serta
  • 23

    Jan

    A N G I N

    Hey, kau dengarkan apa yang ku katakan? Bawa aku dari sini. Ya, keluar dari sini. Rasanya, aku butuh menghirup udara segar di luar sana. Menghamparkan tubuh ini di rerumputan, menikmati buliran hujan yang semakin menggila akhir-akhir ini. Jangan ragu duduk di sampingku, jangan bosan dan lelah. Antarkan aku kesana, ke tempat yang bisa membuatku berteriak “freedooommmmmmmmmm”. Jangan memandangku seperti itu, aku tetaplah orang bisa seperti halnya kebanyakan orang. Hanya saja, kadang aku punya pemaknaan yang berbeda dalam menikmati hidup. Dengan berteriak atau bernyanyi di atas sepeda motor yang melaju kencang misalnya. Sudah berapa lama kau menemaniku? Entahlah, aku juga tak tahu pasti. Rasanya, hampir sama dengan usiaku saat ini, 25 tahun. Sejak lahir, saat itu pula semua orang

Author

Follow Me