• 21

    Mar

    Luka Yang Tertutup Jerami

    Hatiku tergetar melihat poster itu. Poster besar yang terpampang di dekat pasar. Wajah yang terpampang disana memang terlihat ramah. Seketika tubuhku menggigil melihatnya. Rasanya, aku sudah lama menghindari hiruk pikuk dunia perpolitikan di negeri ini. Namun, ketika melihat sesosok wajah itu jiwaku seolah terbangun. Kulayangkan pandang di sekitarku, tak ada hal yang ganjil. Semua baik-baik saja. Orang-orang beraktifitas dengan wajar. Ah, mungkin ini hanya ketakutanku saja. Kulangkahkan kaki secepat mungkin. Rencana berbelanja bahan untuk membuat nasi kuning kesukaan suami pun kuabaikan. Setengah berlari kuhampiri suami yang masih setia menunggu. Dengan napas terengah dan isak tangis aku segera berhambur ke arahnya. Orang-orang yang ada di sekitar kami melihat dengan rasa ingin tahu. Suam
  • 7

    Sep

    Bungkusan Nasi dari Wasinah

    Hari masih terbilang pagi. Matahari pun masih belum terlalu garang panasnya. Udara masih agak dingin dan senyap. Namun itu tak menyurutkan langkah kaki para petani untuk mengayunkan semangat demi menuai harapan yang telah menguning. Ah, sepertinya itu bukan hanya harapan para petani saja. Tapi juga harapan seluruh negeri ini, yang notabene memang menggantungkan hidupnya dari para petani. Oh, aku lupa. Rupanya sekarang ini negeri kita yang katanya kaya raya akan sumber daya alamnya lebih suka mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya. Lantas, kemanakah larinya bulir-bulir padi yang dirawat oleh para petani itu? Aku sungguh tak mengerti dengan cara kerja di negeri ini. Harus diakui, saat ini kita bukan lagi negara yang bisa berbangga atas swasembada berasnya. Tak seperti dulu lagi
  • 6

    Sep

    Kabut Hitam di Bola Matamu

    Kalender usang di kamarku sudah menunjukkan hari ke-6 bulan September. Yah, ternyata sudah memasuki bulan September. Bulan yang paling kau takuti selama ini. Bulan yang paling kau harapkan tak pernah ada. Bulan yang merenggut sebagian kisah masa kecilmu. Bulan yang katanya orang-orang adalah bulan berdarah. September selalu mengingatkanku padamu. Aku tahu, hidup kadangkala memang bermain kejam dan tak sebahagia seperti mimpi kita semasa kecil. Ikhlaskanlah, mungkin itu adalah kuasa Tuhan untuk membuatmu kuat. Seperti saat ini, bagiku kau adalah kawan masa kecilku yang paling kuat. Cuma kamu satu-satunya kenangan masa kecilku yang paling tangguh ketika harus menjalani ritual menonton film itu. Aku tahu, menonton film itu hanya akan membawa kenangan yang tak pernah engkau harapkan. Hanya ak
  • 29

    Aug

    [Monolog] Kita Punya Cerita...

    Gerimis yang turun sore tadi masih menyisakan sedikit kesejukan. Aroma tanah basah yang bercampur dengan asap perapian dari api unggun yang kau buat senja tadi semakin meronakan pipiku. Ah, melegakan dan romantis. Entahlah, aku begitu bahagia ketika mendapati suasana yang seperti itu. Kala itu, mentari sedang malu-malu dan bersembunyi di balik awan. Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaanku saat ini. Aku bahagia. Ya, bahagia ssekali. Bagiku, segala sesuatu tentangmu adalah sebuah kebahagiaan yang nyata. Aku tahu, kadang keadaan memang tak butuh berkesejatian. Tapi inilah aku. Inilah kita dengan segala kesejatian yang kita ciptakan untuk menikmati hidup. Aku menikmatinya. Kita sama-sama menikmatinya. Lalu, sudah cukupkah ini semua bagi kita? Cukup, lebih, banyak, sedikit merupakan sebuah u
- Next

Author

Follow Me