Senyuman Adalah Peredam Luka

22 Jul 2014

“Tersenyumlah Nak! Ketika nanti kita tak punya apa-apa yang bisa dipersembahkan, hanya senyuman yang tuluslah yang mampu mengenyangkan hati” begitu kata Bob ketika melihatku cemberut.

Saat kecil dulu, yang aku tahu, ketika ada yang menyakiti kehidupan kami, yang harus aku lakukan ada proteksi diri dalam bentuk apapun. Aku masih terlalu kecil untuk belajar menerima bahwa memaafkan adalah keluasan hati yang tak terperi. Aku masih terlalu kecil untuk menerima bahwa senyum yang tulus itu adalah pengobat dendam. Aku hanya memupuk kebencian dan memeliharanya. Tanpa tahu bahwa ketulusan senyuman adalah obat meredam dendam.

Masa kecil adalah masa menyimpan luka di dalam hati. Saat kami sekeluarga mengalami permasalahan yang cukup berat, aku masih terlalu kecil untuk memahaminya secara terbuka.

Aku ingat, saat itu adalah lebaran paling menyakitkan bagiku. Lebaran dengan segala keterbatasan. Lebaran tanpa tawa dan canda seperti bocah di masa itu. Lebaran yang selalu membuatku menundukan kepala. Tapi tidak bagi kedua orang tuaku. Mereka selalu tersenyum kepada siapapun. Termasuk kepada yang menyakiti mereka. Yang aku tahu, saat itu aku begitu membenci semua orang.

Saat ini aku melayangkan ingatanku melayang pada beliau. Bob dan Ibu yang selalu meredam dendam dengan senyuman. Kepada mereka yang selalu membasuh luka dengan senyuman. Kepada mereka yang selalu terbuka memaafkan dan menghadirkan senyuman paling tulus kepada siapapun, termasuk kepada yang pernah menghancurkan kehidupan kami.

Ya Allah, bukakanlah selalu hatiku untuk selalu tulus dan ikhlas memaknai luka. Bukakanlah hatiku agar bisa menghadirkan senyuman paling tulus kepada siapapun. Ya, kepada siapapun itu. Jaga ketulusan senyuman Bob dan Ibuku. Biarkan seperti dulu kala, saat cobaan dan cobaan mengguncang kehidupan kami. Amin…


TAGS Ngablogburit


-

Author

Follow Me