THR : Untuk Kebutuhan atau Keinginan?

18 Jul 2014

THR Sedang Dalam Perjalanan :v

THR Sedang Dalam Perjalanan :v (gambar pinjam dari google)

Memasuki minggu ketiga bulan puasa, selain diskon yang lagi ramai dibicarakan di setiap tempat kerja pastilah THR. Yups, THR alias Tunjangan Hari Raya ini pasti jadi trending topic pembicaraan yang paling heboh di kantor. Hayo ngaku! Pasti banyak yang lagi deg-degan tralala trilili nungguin si THR ini. Ada juga yang sibuk nggerutu gak jelas sama teman sekantor karena THR gak cair-cair. Sampa-sampai berlanjut nyindir si Bos di media sosial dengan masang foto-foto yang modusnya biar si Bos lihat dan langsung mencairkan si THR. Pokoknya minggu terakhir menjelang hari raya media sosial sibuk dihebohkan dengan curhatan para karyawan yang sedang menanti THR. Saya sendiri juga tidak tahu, apakah metode seperti itu cukup ampuh dan menggelitik atasan ataukah sebaliknya.

THR merupakan tunjangan yang dibayarkan menjelang hari raya, biasanya diberikan paling lambat seminggu sebelumnya. Pemberian THR ini juga merupakan bentuk kewajiban yang harus dibayarkan kepada karyawan. Diharapkan dengan adanya THR mereka dapat memenuhi beberapa kebutuhan untuk lebaran. Sayangnya, bentuk dari kebutuhan itu sebenar lebih banyak pada pemenuhan keinginan yang jauh dari prioritas primer. Pemenuhan kebutuhan atas dasar konsumerisme sesaat. Baju baru, aksesoris baru, gadget baru, cat rumah baru, motor baru dan masih banyak lagi yang lainnya. Bisa dipastikan, karena pasar membaca peluang hadirnya THR ini sebagai mangsa yang potensial. Diskon besar-besaran digelar hampir disemua pusat perbelanjaan. Masjid-masjid memasuki minggu terakhir puasa menjadi semakin sepi, kalah oleh semarak toko-toka yang mengobral diskonan sepanjang waktu. Bahkan parkirannya sampai luber kemana-mana. Ya Allah, jauhkan hamba dari godaan diskon yang terkutuk -_-

Uang THR lenyap seketika untuk keinginan-keinginan semata. Bahkan kita lupa, tetangga sebelah rumah menjahit mukena kusam yang sudah robek sana-sini demi untuk penampilan terbaik sholat Idul Fitri di masjid. Atau mungkin kita sudah lupa, tetangga belakang rumah masih bingung hendak menyuguhkan hidangan apa untuk tamu yang bersilaturahmi, sementara yang dimiliki hanya segenggam garam dan segelas minyak goreng. Mungkin kita lupa, pada anak kerabat kita yang berlebaran dengan ikhlas meski hanya memakai baju yang resletingnya sudah rusak dan selalu terbuka. Saat menerima THR kita bahkan melupakan semua di sekitar kita. Ingatan hanya melayang pada diskon, diskon dan diskon.

Mendapatkan THR harusnya kita bisa berbagi dengan mereka yang mebutuhkan. Mendapatkan THR harusnya kita bisa memberi mereka kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Mendapatkan THR harusnya membuat kita lebih peka. Seharusnya kita memanfaatkan THR sesuai batas kebutuhan bukan keinginan.


TAGS THR Keinginan Kebutuhan blogdetik Ngablogburit


-

Author

Follow Me