Ibu Rumah Tangga Wajib Ingat Lingkungan

31 Mar 2014

Bicara tentang lingkungan tidak pernah lepas dari peranan seorang ibu rumah tangga. Gaya hidup keluarga tanpa kita sadari ada di tangan seorang ibu. Dalam kehidupan rumah tangga, seorang ibu adalah guru bagi anak-anaknya, pengelola keuangan serta pengambil kebijakan tentang apa yang akan dimakan dan digunakan oleh keluarga. Kadangkala, seorang istri adalah juga teman bicara bagi seorang suami tentang segala hal termasuk lingkungan. Teman yang mendampingi suami untuk memperkuat keputusannya.

Sampah itu Dari Dapur Kita

Apakah pernah terpikir dalam kehidupan kita, dari mana datangnya sampah yang menumpuk di sungai-sungai itu? Percayalah, sampah-sampah itu datangnya dari dapur kita.

Boleh mengelak, tapi sebagian besar sampah yang berceceran itu memang berawal dari rumah. Seorang Ibu punya kuasa penuh untuk mengatur segala kebutuhan anggota keluarga. Termasuk apa yang dipakai dan dikonsumsi. Dari sini bisa kita lihat betapa pentingnya peran seorang Ibu memilih produk apa yang sesuai dengan kebutuhan setiap anggota keluarga. Dari banyaknya produk yang dipilih tentu meninggalkan sampah yang juga tak sedikit. Kita bahkan seringkali lupa atau memang melupakan bahwa sebenarnya juga ikut menyumbangkan sebagian besar sampah di muka bumi ini. Kita bahkan lupa, bahwa sebenarnya kita juga wajib mengatur dan mengelola sendiri sampah yang kita hasilkan.

Setiap harinya, ada saja kebutuhan yang harus dibeli. Semua itu berarti menambah lagi sampah yang harus dipikirkan. Coba kita bayangkan bila semua rumah di atas bumi setiap harinya membeli produk dengan kemasan. Akan seperti apakah bentuk dan rupa bumi ini? Sebagai ibu rumah tangga kita harus berpikir kritis. Setidaknya mengkritisi produk-produk yang kita gunakan. Kita wajib menjadi konsumen yang cerdas. Karena apa yang kita makan dan pakai harus melalui proses yang sudah sepatutnya kita ketahui. Semuanya itu akan kita pertanggungjawabkan pada Tuhan nantinya.

Ibu rumah tangga harus menjadi konsumen yang cerdas. Bukan hanya cerdas mengkritisi tapi juga harus cerdas bertindak. Banyak produk di pasaran yang prosesnya melalui cara-cara nakal dan melakukan kejahatan lingkungan.

Seperti contohnya beberapa produk minyak goreng yang kelapa sawitnya diambil dari perkebunan yang melakukan perambahan hutan untuk memperluas sawitnya. Perusahaan air yang melakukan eksploitasi sumber mata air secara kejam, sehingga rakyat di sekitarnya pun tak bisa lagi mendapatkan air bersih. Perhiasan emas yang dihasilkan dari pertambangan emas dengan proses menggerogoti lingkungan sedemikian rupa. Hal-hal tersebut adalah beberapa contoh yang ada di negeri ini. Itu hanya sebagian kecil contoh. Karenanya, sebagai ibu rumah tangga kita butuh kritis memilih produk apa yang akan digunakan oleh keluarga.

Untuk menghambat laju pertumbuhan sampah di rumah, saya membiasakan diri untuk menghindari berbelanja setiap hari. Jadi, berbelanja untuk waktu dua minggu ataupun sebulan sekali lebih efektif. Selain itu, lebih memilih berbelanja di pasar tradisional daripada di swalayan. Karena di pasar tradisional bahan-bahan yang kita butuhkan biasanya bisa dibeli dengan menggunakan tas belanja ataupun wadah sendiri, sehingga bisa meminimalisir sampah plastik. Meskipun sekarang ini sudah banyak swalayan yang menyediakan tas dengan label go green namun bagi saya tetap saja kurang afdol. Swalayan biasanya menggunakan AC dan pendingin makanan yang terkadang kurang ramah terhadap lingkungan. Jadi, percuma melabeli tas mereka dengan go green tapi di sisi lain juga masih menggunakan hal yang bisa merusak lingkungan.

Berbelanja produk kemasan kadangkala memang tak dapat kita hindari, tapi setidaknya kita juga wajib mengelola sampahnya agar tak menjadi sesuatu yang berbahaya bagi bumi. Kalau sampah organik dari sisa-sisa makanan masih bisa kita manfaatkan sebagai pupuk ataupun sebagai pakan ternak. Pengelolaan sampah organik yang paling mudah dilakukan oleh ibu rumah tangga adalah dengan memelihara hewan ternak. Secara tidak langsung prosesnya akan berputar dengan sendirinya. Untuk sampah kemasan dan plastik, biasanya saya memanfaatkannya lagi sebagai sesuatu yang bermanfaat. Selama ini di rumah, kami dan beberapa teman di Jember menggagas sebuah kegiatan mengumpulkan botol kosong dan beberapa barang yang sudah dianggap sampah. Botol-botol itu dijual untuk diolah lagi menjadi biji plastik yang nantinya akan dimanfaatkan lagi menjadi bermacam-macam produk. Hasil penjualan sampah tersebut kita manfaatkan untuk membantu mereka yang kesulitan biaya sekolah.

Akhir-akhir ini banyak yang menuntut pemerintah mengenai pengaturan sampah. Sebenarnya semua itu sudah diatur dalam UU No. 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Banyak yang mengkritik UU itu hanyalah macan kertas belaka. Namun sebelum meluncurkan kritik, sudahkah kita menuntut diri sendiri untuk mengatur sampah dari dapur rumah sendiri? Karena banyak fakta di lapangan yang membuat miris. Semakin keras UU itu ditegakkan akan menjadi percuma bila tak dibarengi dengan kesadaran masyarakatnya sendiri tentang pengelolaan sampah.

Ibu : Pintu Dasar Menanamkan Cinta Lingkungan Pada Keluarga

Selain mengelola sampah, seorang ibu adalah dasar pengenalan lingkungan bagi seluruh anggota keluarga. Bagi seorang anak, ibu adalah contoh yang bisa dilihat setiap waktu oleh sang anak. Apalagi ketika memasuki usia golden age, anak akan selalu melihat apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya juga butuh kita tanamkan pada buah hati sejak dini. Ini akan menjadi sebuah kebiasaan yang baik bagi kehidupan anak di masa yang akan datang. Selain itu, juga meminimalisir memelihara hewan atas dasar hiburan dan kesenangan. Ini seringkali yang dilupakan oleh para keluarga. Pemeliharaan hewan yang sebenarnya adalah didasari atas asas manfaat yang bisa digunakan oleh seluruh anggota keluarga dan juga lingkungan di sekitar. Misalnya adalah hewan ternak yang bisa dimanfaatkan. Seringkali membawa anak untuk melihat hiburan seperti sirkus juga bukanlah kebiasaan yang bagus. Karena melatih anak untuk bersikap ambisius dan ingin menguasai, memberikan contoh untuk memenjara hewan dalam sangkar untuk kepentingan kesenangan pribadi.

Pendidikan adalah penting. Tanpa pendidikan yang kritis tak mungkin kita akan mengerti bagaimana sebaiknya memperlakukan lingkungan.

Sebagai ibu rumah tangga sekaligus istri juga berhak memberikan pendapat kepada suami. Hal ini pasti seringkali terjadi di kehidupan kita. Suatu ketika suami datang dan menceritakan tentang kegiatan penghijauan yang akan di lakukannya bersama teman-temannya. Sebagai istri yang kritis, kita juga butuh memberikan padangan tentang penghijauan yang tepat bagi lingkungan di Indonesia. Kita butuh mengingatkan suami bahwa penghijauan bukanlah hanya sebatas menanam kemudian dipotret. Masih ada beberapa tahapan yang kadang ditinggalkan oleh mereka yang telah melakukan penghijauan. Yang pertama, sebelum menanam kita wajib mengetahui tanaman endemik apa yang cocok untuk ditanam. Hal ini menghindarkan pada efek kerusakan tanah dan keberlangsungan bibit yang akan kita tanam. Kedua, adalah proses penanaman dengan prosedur yang tepat. Sekarang ini yang sering dilakukan adalah sekedar tanam, kemudian foto-foto dan selesai. Padahal masih ada tahapan ketiga yaitu pemantauan terhadap bibit yang telah ditanam. Proses pemantauan itu wajib dilakukan setidaknya sampai 6 bulan untuk memastikan bahwa bibit yang kita tanam siap hidup sendiri.

Kenapa harus mengambil contoh penghijauan? Karena kegiatan ini sedang marak-maraknya. Apalagi sekarang ini banyak kegiatan penghijauan yang juga marak di acara PKK. Iya kan Bu? Bahkan sudah sampai pada anak-anak. Jadi, kita wajib memberikan pengetahuan yang tepat tentang penghijauan. Agar tindakan yang sebetulnya bergenuna tidak tergelincir mencadi sesuatu yang akibatnya malah merusak.

Semua pengetahuan kita tentang lingkungan butuh kita tanamkan pada keluarga terdekat agar bisa membuka pikiran mereka secara terbuka tentang permasalahan lingkungan yang sedang terjadi saat ini. Wawasan dan informasi terbuka lebar. Pengetahuan dan informasi yang berkaitan tentang lingkungan bisa kita dapatkan dengan mudah di internet. Kita tinggal memilah mana yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya adalah organisasi lingkungan seperti WWF yang juga melakukan sosialisasi dan kampanye lingkungan di dunia maya. Sebagai ibu rumah tangga yang kadangkala terbentur dengan kegiatan di rumah, kita bisa sering mendapatkan informasi melalui blog, twitter ataupun jejaring social milik WWF. Jangan merasa tertinggal dan tak bisa melakukan apa-apa karena kita hanya menjadi ibu rumah tangga. Justru tonggak kesuksesan lingkungan ada di tangan kita, karena semuanya berawal dari dapur rumah kita.

Salam lestari,

Prit Apikecil Ibu rumah tangga biasa.


TAGS Ingat Lingkungan blogdeti WWF Indonesia Add new tag


-

Author

Follow Me