Luka Yang Tertutup Jerami

21 Mar 2014

Hatiku tergetar melihat poster itu. Poster besar yang terpampang di dekat pasar. Wajah yang terpampang disana memang terlihat ramah. Seketika tubuhku menggigil melihatnya. Rasanya, aku sudah lama menghindari hiruk pikuk dunia perpolitikan di negeri ini. Namun, ketika melihat sesosok wajah itu jiwaku seolah terbangun. Kulayangkan pandang di sekitarku, tak ada hal yang ganjil. Semua baik-baik saja. Orang-orang beraktifitas dengan wajar. Ah, mungkin ini hanya ketakutanku saja. Kulangkahkan kaki secepat mungkin. Rencana berbelanja bahan untuk membuat nasi kuning kesukaan suami pun kuabaikan. Setengah berlari kuhampiri suami yang masih setia menunggu. Dengan napas terengah dan isak tangis aku segera berhambur ke arahnya. Orang-orang yang ada di sekitar kami melihat dengan rasa ingin tahu. Suamiku menenangkanku sambil membujukku untuk segera naik ke atas motor. Motor melaju dengan tenang, meninggalkan orang-orang yang penuh tanda tanya.

Seiring laju motor yang dikedalikan suamiku. Laju memori juga berputar-putar seperti potongan film. Kenangan masa lalu yang menyakitkan seolah terkuak kembali. Entahlah, kenangan ini sudah lama kututup dengan jerami. Memang akan terus basah dan tak kan pernah bisa mengering. Hanya tertutup sementara. Aku tahu, suatu saat jerami itu akan terkuak juga. Entah oleh sapuan angin atau memang sengaja ada yang membuka. Ya, dan saat ini jerami itu terbuka. Memperlihatkan luka yang semakin mengucurkan darah. Hidupku habis hanya karena memiliki luka ini. Kekuatan dan energiku terkuras hanya untuk menghidupi luka itu. Entahlah, tak banyak orang yang mau mengerti keadaanku. Hanya dia. Lelaki yang kini menjadi suamiku. Hanya dia yang mau bersabar dan mau mengerti jalan kehidupanku.

Subuh itu, adalah awal dari luka ini dibuat…

Kokok jantan pertama yang kudengar seolah hanya sebatas gurauan. Tak kutanggapi dengan serius. Kulihat bayangan Bapak dan Ibu meninggalkanku sendirian. Seperti pagi-pagi sebelumnya, mereka selalu sholat berjamaah. Aku masih menggeliat. Bahkan ketika mereka usai sholat, aku pun hanya melihatnya dengan sesekali menguap. Ibu merengku tubuh kecilku. Bapak mengusap kepalaku berkali-kali. Aku menatap keduanya lekat-lekat. Mereka menciumku dengan gemas. Kemesraan kami dibuyarkan oleh bunyi gedoran pintu. Bapak bangkit dari duduknya. Menetapku lekat. Ibu bersegera membawaku ke dapur. Ibu menidurkanku di atas tumpukan jerami, kemudian menutupi tubuh kecilku dengan jerami. Ibu memberikanku secarik kain, aku menggigitnya. Dia menciumku dengan menangis. Sambil berisyarat agar aku tak bergerak dan mengeluarkan suara apapun.

Dorrrr…

Aku mendengar suara teriakan Bapak. Aku mendengar suara jeritan Ibu. Kugigit kain pemberian Ibu sambil menahan napas. Lalu kudengar, ada banyak jeritan dan teriakan di sekitarku. Kudengar derap langkah semakin mendekat. Semakin erat kugigit kain pemberian Ibu. Sosok-sosok wajah samar yang terlihat. Namun, Tuhan seolah menerangi satu sosok tegap di depan tungku masak milik keluarga kami. Aku menghapal wajah itu seumur hidupku. Sejak saat itu aku berjanji tak kan pernah kembali ke tempat ini lagi. Sejak saat itu, aku membenci waktu-waktu seperti ini. Saat subuh berdarah membunuh kenangan tentang negeri di awan.

Dan luka itu berdarah lagi, hanya karena poster besar yang terpampang di jalan dekat pasar…

“Mas, ayo kita pergi dari negeri ini! Aku takut.” ucapku sambil memeluk erat suami.

***

……, 04:01 WIB

Catatan :

Percayalah, ini hanyalah cerita fiksi belaka.


TAGS Luka Yang Tertutup Jerami Subuh Berdarah


-

Author

Follow Me