Pelayanan Kesehatan di Indonesia : Mungkinkah Adil dan Humanis?

27 Nov 2013

Saya tinggal mengikuti suami di sebuah kota kecil yang letaknya hampir di ujung timur pulau Jawa. Jember, sebuah kota kecil yang berbatasan dengan Banyuwangi dan Lumajang. Sudah hampir memasuki tahun ke sepuluh saya ada di kota ini, dan hampir setiap tahun selalu saja ada beberapa permasalahan pelayanan kesehatan yang menurut saya berat sebelah, tidak adil dan merugikan masyarakat kelas menengah ke bawah. Yang lebih menyedihkan lagi, kebanyakan permasalahan itu selalu terjadi di rumah sakit plat merah ( rumah sakit pemerintah ). Bagi saya pribadi, itu merupakan gambaran pelayanan kesehatan di Indonesia secara keseluruhan. Sudah menjadi rahasia umum dan hal ini tidak bisa kita pungkiri. Pelayanan kesehatan bagi kalangan menengah ke bawah masih merupakan barang mewah yang sulit dijangkau. Ya, pelayanan kesehatan yang baik dan berkualitas hanya bisa dijangkau oleh mereka yang berkantong tebal. Apakah orang yang miskin harus selalu dilupakan dan dianggap remeh? Bukankah semua di mata Tuhan itu sama, tak peduli kaya ataupun miskin? Orang miskin juga butuh sehat. Ya, mereka juga butuh pelayanan kesehatan yang layak.

Seorang teman saya, sebut saja namanya Sri. Sri mendapatkan pengaduan dari sahabatnya yang ibunya sakit dan harus segera dioperasi di sebuah rumah sakit di Jember. Ketika itu si Ibu tidak langsung ditangani oleh beberapa perawat yang bertugas. Padahal kondisi si Ibu sangat mengkhawatirkan dan harus mendapatkan penanganan khusus secepatnya. Karena tidak tega menlihat kondisi si Ibu, akhirnya si anak berkata kepada perawat yang sedang tugas jaga saat itu. “Mohon maaf Bu, Ibu saya butuh segera ditangani. Saya akan bayar semua biayanya. Asal tahu saja ya, saya tidak memakai Jamkesmas lho Bu. Asal Ibu saya sehat, semua akan saya penuhi administrasinya”. Seketika itu juga si Ibu langsung dibawa ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kalau nggak kebangeten kan tidak mungkin si anak itu mengucapkan hal seperti itu. Astaghfirullah, miris sekali saya mendengar cerita dari teman saya itu. Secara tidak langsung hal tersebut semakin menunjukkan bahwa pelayanan kesahatan bagi masyarakat yang menggunakan Jamkesmas akan lebih lama dan kualitasnya pun patut dipertanyakan. Ah, entahlah.

Mei 2008, Ibu Mertua saya meninggal. Waktu itu saya masih berstatus pacaran sih, belum menikah. Selama beberapa hari Almarhumah Ibu tidak sadarkan diri di sebuah rumah sakit hingga akhirnya meninggal. Jarak antara rumah sakit tempat Ibu dirawat tak begitu jauh dari rumah suami saya. Kira-kira menempuh waktu 5 menit lah kalau naik sepeda motor. Untuk membawa jenazah almarhumah Ibu pihak rumah sakit menawarkan menggunakan jasa ambulance dengan tarif Rp. 75.000,-. Waktu itu, suami saya menawarnya, karena memang jarak rumah kami tidak terlalu jauh dengan rumah sakit. Setelah lobi-lobi, ternyata memang tidak bisa, ketentuannya jauh dekat di wilayah kota tetap dikenakan tarif yang sama. Tak berapa lama, ada seorang petugas (saya tidak tahu dia sebagai apa, yang jelas tempatnya di seputaran kamar mayat) nyelonong sambil ngomong, ” Kalau nggak mau pake ambulance yang dinaikkan becak aja!”. Subhanallah, hati anak yang mana yang tak luka mendengar perkataan seperti itu. Sedangkan bagi kami, memberikan penghormatan bagi orang yang telah meninggal itu juga wajib hukumnya. Sempat ingin marah, namun suami saya masih bisa menahannya mengingat jenazah almarhumah harus segera dibawa pulang. Akhirnya, jenazah almarhumah Ibu dibawa pulang menggunakan ambulance dengan tarif yang sama. Saya jadi bertanya-tanya, apakah mereka yang bekerja di pelayanan publik khususnya pada bidang kesehatan tak lagi memiliki sisi kemanusiaan yang humanis? Sehingga tak lagi peduli pada pilihan kata yang tepat ketika menyampaikan sesuatu? Apakah segalah hal tersebut telah bergeser dengan uang?

Pada awal bulan Januari 2009, kota kecil ini juga sempat ramai dengan kasus jual beli bayi berkedok adopsi oleh salah satu rumah sakit. Karena orang tua tidak bisa membayar biaya perawatan, maka pengelola rumah sakit memaksa keluarga si bayi untuk menjualnya dengan kedok adoposi. Ya Allah, lagi-lagi keadilan tidak berpihak pada mereka yang benar-benar membutuhkan. Bagi mereka, kebahagiaan adalah juga kesehatan yang layak dan berkualitas. Namun, untuk memperolehnya, kenapa begitu sulit dan mahal?

Kita semua tahu bahwa pemerintah telah membuat program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) untuk menjamin masyarakat kurang mampu agar kebutuhan kesehatannya terpenuhi dengan layak. Saya rasa, pemerintah sudah membuat sebuah program yang baik dan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Lantas, apakah pelaksanaannya di lapangan sesuai dengan apa yang telah diprogramkan? Wallahua’lam. Melihat beberapa fakta di lapangan, masih ada beberapa program Jamkesmas ini yang belum berjalan sesuai dengan tupoksinya. Menurut saya, kurang maksimalnya program Jamkesmas bagi masyarakat ini juga berbenturan dengan pendataan jumlah masyarakat kurang mampu yang masih belum optimal. Yang jelas, proses Jamkesmas ini kan jelas membutuhkan data-data yang secara riil ada di lapangan. Kecenderungan kurang valid-nya data-data tersebut tentu saja akan menghambat proses berjalannya program. Kalau masalah pelayanan yang kurang ramah dan tidak optimal, saya rasa itu bisa dikembalikan lagi pada tugas dan niatnya. Jika segala hal dinilai dan diorientasikan dengan uang, tentu saja pencapaian dan hasilnya tak jauh dari itu. Dan niatpun sudah berubah. Dari yang ikhlas menolong menjadi menolong untuk mendapatkan uang.

Beberapa pengalaman yang saya tuliskan tentang pelayanan kesehatan di tempat saya tinggal ini hanya sebagai penggambaran tetang kondisi pelayanan publik di bidang kesehatan. Semoga bisa kita jadikan pembelajaran bersama. Mungkin ada yang berpendapat, nulis di blog aja sih gampang sama kayak koar-koar. Trus solusinya apa? Saya rasa solusinya adalah perbaikan sistem. Ya, sistem pendataan masyarakat kurang mampu dan dhuafa sehingga bisa mendapatkan layanan kesehatan secara layak dan optimal dari pemerintah. Apa cuma pendataan saja? Tentu ada hal-hal lain yang juga mendukung untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang adil bagi semua. Diantaranya adalah mengembalikan semuanya sesuai dengan tupoksinya dan tanggung jawabnya. Saya pribadi berharap, semoga tulisan ini dibaca oleh mereka-mereka yang kerap dan berkaitan erat dengan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Setidaknya, kita semua berharap ada perubahan yang lebih baik pada pelayanan kesehatan di Indonesia. Lebih adil, ramah, berkualitas, humanis dan tepat sasaran. Karena kesehatan adalah bagian dari kebahagiaan. Karena sehat itu milik semua orang.

Salam Saya,

Priit Apikecil :)

Sumber Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Jamkesmas

http://surabaya.tribunnews.com/2009/01/21/kasus-adopsi-ilegal-belum-temukan-tersangka

http://www.cendanapos.com/2009/11/pengadopsi-akui-pesan-bayi-ke-rsud.html

http://www.tempo.co/read/news/2009/01/30/058157605/Empat-Tersangka-Kasus-Jual-Beli-Bayi-Ditahan


TAGS Layanan Kesehatan Cuma-Cuma LKC Dompet Dhuafa Sehat Milik Semua


-

Author

Follow Me