Desa di Bawah Angin

14 Sep 2013

Konon kabarnya, ada suatu tempat yang indah dan damai. Tanahnya subur, pepohonan rindang menaunginya, sungai-sungai penuh ikan, laut yang bersih, padi-padi menguning dengan alami. Langitnya masih biru cerah, udaranya pun bersih dan sehat. Disana masih terdengar kicauan burung aneka rupa dan warna. Bunga-bunga mekar dengan gemilang dan indah. Disanalah tempatnya. Di sebuah desa yang damai dan sejuk. Desa di bawah angin, begitu kami menyebutnya. Penduduknya ramah dan jujur. Selalu ada senyuman untuk setiap mereka yang mengunjungi desa ini. Mereka tak takut pada orang asing yang datang. Mereka selalu menghormati setiap tamu yang datang. Mereka juga selalu lapang dada, menerima siapapun yang ingin tinggal disana. Tanpa harus membeli tanah, tanpa harus membayar air. Semuanya ada disana, tak ada lagi yang perlu dibeli.

1

Desa di bawah angin, hanya orang-orang terpilih yang bisa hidup dan tinggal disana. Lagu-lagu mengalun abadi dan jujur. Tulisan-tulisan pun dibuat dengan merdeka dan jujur. Tidak ada korporasi bandit. Tak ada monopoli dan penjajahan. Yang ada hanyalah keikhlasan untuk berbagi dan saling memahami. Sampai-sampai, angin pun enggan marah dan mengirimkan badainya. Tak ada yang mecekam. Tak ada kesedihan. Tak ada yang bertikai. Apalagi bertikai membawa-bawa nama Tuhan. Karena selayaknya, Tuhan tidak pantas dijadikan kambing hitam. Ya, tidak ada hal seperti itu disana.

2

Lantas bagaimana dengan kebahagiaan? Semua yang ada di desa tersebut memaknai kebahagiaan dalam batas sewajarnya. Sama halnya dengan penggunaan sumber daya alam yang ada. Para penduduknya memanfaatkannya sesuai dengan batas kewajaran. Tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ya, butuh keikhlasan khusus untuk mencapai taraf seperti itu. Semuanya berjalan saling mengisi demi mencapai harmonisasi alam yang diinginkan. Damai, tenteram dan bahagia.

Apakah ini desa impian yang sulit dijamah? Tidak, semuanya bukanlah hal yang mustahil bila kita mau mencobanya. Semuanya bisa kita ciptakan sendiri. Apakah ini seperti mimpi? Tidak, jangan membayangkan ini adalah sesuatu yang sulit untuk diwujudkan. Bahkan Tuhan-pun akan berkehendak bila kita mau ikhlas mewujudkannya. Ya, mari kita ciptakan sendiri desa impian ini. Selayaknya desa di bawah angin. Kita ciptakan sendiri saja semua kedamaian dan kejujuran ini. Bukankah itu yang paling penting untuk menghilangkan korporasi para bandit, monopol, serta belenggu penjajahan dan antek-anteknya. Setidaknya, kita bisa membuat Tuhan tersenyum dengan keadaan ini. Bukankah harmonisasi alam akan lebih mudah kita capai bila kita bisa saling mengikhlaskan satu sama lain. Bukankah desa di bawah angin bisa menjadi kenyataan bila kita terus bersyukur atas apa yang kita terima?

Catatan :

Semua foto dijepret oleh Mas faisal Korep. Abang saya di pencinta alam. Makasih ya Bang :)


TAGS #30HariNonstopNgeblog Dblogger Desa Impian Kebahagiaan Sumber Daya Alam


-

Author

Follow Me