Kelapa dan Kesederhanaan Khas Pesisir yang Terpinggirkan

13 Sep 2013

Bulan ramadhan lalu, saya, suami dan kawan-kawan berkesempatan mengunjungi sebuah desa pesisir yang indah di ujung timur pulau jawa. Desa Sarongan ini masuk dalam wilayah Pesanggaran kabupaten Banyuwangi. Bentang alam wilayahnya terdiri atas perkebunan, gunung-gunung kecil dan pantai. Kami menginap di rumah salah satu penduduk disana.

-Saya dan suami naik motor menyusuri jalanan di sekitar pesisir desa Sarongan. Romantis,hehe :) -

Di sebagian wilayah pesisir pantainya, Sarongan banyak ditumbuhi oleh pohon kelapa. Pohon yang semua bagian tubuhnya bermanfaat ini merupakan tempat para penduduk Sarongan untuk menggantungkan hidupnya. Selain produksi gula kelapa, masyarakat juga memanfaatkan bagian batang pohon sebagai kayu untuk bahan bangunan. Kayu batang kelapa ini mutunya bisa dikategorikan golongan menengah. Selain itu daunnya (janur) yang masih muda biasa digunakan sebagai pembungkus ketupat atau juga bisa dipakai sebagai dekorasi pernikahan (dalam adat jawa). Janur yang sudah tua biasanya dikeringkan dan bisa dimanfaatkan sebagai atap rumah. Tempurung kelapa bisa dijadikan sebagai aneka macam kerajinan. Serat sabutnya bisa digunakan sebagai pengisi jok mobil, sapu dan juga dikreasikan sebagai benda bermanfaat lainnya seperti keset dan lain sebagainya. Air dan daging buahnya pun tak diragukan lagi manfaatnya bagi tubuh, diantaranya digunakan sebagai penetral racun serta memberikan efek menenangkan dan menyegarkan. Daging buahnya yang masih muda bisa dikonsumsi langsung atau dibuat santan untuk aneka masakan. Daging buahnya yang sudah tua bisa digunakan sebagai bahan minyak kelapa. Dan kabarnya, akar dari Cocos nucifera ini mengilhami penemuan teknologi penyangga bangunan (ceker ayam) oleh Sedijatmo. Hampir semua bagian dari pohon yang diperkirakan berasal dari pesisir Samudra Hindia ini bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia dari segi manapun.

2-Pelepah kelapa ini dijemur di depan pondok Pak Untung. Kalau sudah kering bisa dijadikan bahan bakar untuk memasak nira-

3-Lihat, di belakang saya itu adalah daun kelapa yang sudah kering. Bisa dimanfaatkan sebagai atap rumah ataupun gubuk. Lokasi : di depan pondok Pak Untung-

Ketika memasuki wilayah pesisir pantai desa Sarongan, kami mencium harum semerbak wangi nira yang sedang dimasak. Proses memasak nira menjadi gula kelapa ini menghasilkan aroma wangi khas yang diterbangkan oleh angin pesisir. Setiap pagi, rata-rata penduduk desa Sarongan beraktifitas di rumah-rumah produksi gula kelapa dan perkebunan. Diawali dari menderes nira sampai membuatnya menjadi gula kelapa dilakukan secara mandiri oleh tiap keluarga. Sarongan memiliki potensi ekonomi kerakyatan yang kuat dari produksi gula kelapanya yang besar. Sayangnya, masih ada sebagian besar para produsen gula kelapa disana yang terjerat oleh tengkulak.

4-Pondok pembuatan gula kelapa milik Pak Untung. Tempatnya sederhana dan wangi khas nira yang dimasak :)-

Waktu itu kami mengunjungi salah satu produsen gula kelapa disana. Pak Untung namanya. Beliau memiliki pondok pembuatan gula kelapa di tengah ladang yang dikelolanya. Umumnya, gula kelapa memang tidak dibuat dirumah. Tetapi di pondok khusus yang biasanya terletak jauh dari rumah. Seperti di kebun ataupun ladang milik para penderes. Pondok produksi gula kelapa milik pak Untung ini sangat sederhana. Ukurannya sekitar 2×2 meter dan dilengkapi dengan peralatan yang juga sangat sederhana. Tungku perapian dan kayu bakar adalah senjata yang tak pernah membuat pondok ini berhenti mengepul menebarkan aroma yang khas.

5

-Pak Untung sedang mengaduk-aduk adonan nira yang mulai mengental-

6-Adonan nira yang sudah mulai kental-

Pak Untung menjadi penderes nira sejak masih remaja sampai saat ini. Setiap hari beliau selalu menjalani rutinitas yang sama. Bangun tidur kemudian pergi menderes nira, setelah itu ke pondok dan memproduksinya menjadi gula kelapa dan menjualnya kepada tengkulak. Semua itu dilakukannya sendiri demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sosoknya sederhana seperti pondoknya. Selain itu, beliau adalah pribadi yang ulet, jujur dan mandiri. Dengan jujur beliau mengakui masih belum bisa menjual produksi gula kelapanya secara mandiri. Selama ini, penguasaan penjualan produksi gula kelapa sebagian masyarakat Sarongan masih dikuasai oleh tengkulak. Hal ini disebabkan karena sebagian besar para tengkulak itu memberikan modal yang mengikat pada produsen kecil gula kelapa. Ikatan itu mengharuskan produsen untuk menjual gula kelapa kepada para tengkulak. Kadangkala, harga yang ditentukan oleh tengkulak pun tak sebanding dengan usaha dan resiko yang ditanggung oleh para penderes gula. Namun ditengah maraknya cekaman para tengkulak, ada juga beberapa masyarakat yang mendirikan koperasi gula kelapa. Hal tersebut bertujuan untuk memutus mata rantai tengkulak yang selama ini mencekik masyarakat Sarongan. 7

-Peralatan yang digunakan oleh Pak Untung masih sangat sederhana sekali :)-

Ditengah-tengah kondisi yang semakin maju, semakin terpinggir pula beberapa produksi rakyat dari pohon kelapa ini. Mulai dari gula sampai minyak kelapa, semuanya mengalami kemerosotan yang cukup signifikan. Padalah produksi ini sudah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak dulu. Naturalia non sunt turpia, bahwa segala hal yang alami tidak memalukan. Mengapa kita harus melenyapkan kesederhanaan khas pesisir yang mungkin dianggap kuno? Mengapa kita harus malu mengkonsumsi dan memakai segala hal alami dan dari tangan kita sendiri? Atau karena takut dicap kuno? Segala hal yang alami dan didapat dari alam itu sebenarnya menyehatkan, menguatkan dan membuat kita mandiri. Seandainya negeri ini mampu berlaku demikian, Insyaallah tidak ada lagi kisah-kisah impor yang tragis dan menyedihkan.

8Sebelum pulang, pose dulu di samping tempat pemasakan nira. Meskipun panas, tapi tetep eksis :)

Pohon kelapa layaknya sosok Pak Untung yang sederhana. Saya belajar banyak dari sana. Kesahajaannya adalah bermanfaat kepada semua isi bumi, meskipun dikelilingi oleh cekaman para tengkulak. Seperti halnya kelapa, kesederhanaannya tetap bersinar meskipun dikelilingi oleh monopoli produk-produk asing yang tak pernah kita kenal dari dulu. Ya, pohon kelapa selalu bersahaja dan bermanfaat meskipun beberapa produk olahannya dianggap kuno dan tradisional.

Artikel ini diikutsertakan dalam Give Away Aku dan Pohon

Catatan:

1. Semua foto ini dijepret oleh Bang Faisal, terima kasih ya Bang :)

2. Lokasi foto di desa Sarongan - Banyuwangi dan Pondok pembuatan gula kelapa milik Pak Untung :)


TAGS Giveaway Aku dan Pohon Sarongan Pohon Kelapa Manfaat Kelapa


-

Author

Follow Me