Bungkusan Nasi dari Wasinah

7 Sep 2013

Hari masih terbilang pagi. Matahari pun masih belum terlalu garang panasnya. Udara masih agak dingin dan senyap. Namun itu tak menyurutkan langkah kaki para petani untuk mengayunkan semangat demi menuai harapan yang telah menguning. Ah, sepertinya itu bukan hanya harapan para petani saja. Tapi juga harapan seluruh negeri ini, yang notabene memang menggantungkan hidupnya dari para petani. Oh, aku lupa. Rupanya sekarang ini negeri kita yang katanya kaya raya akan sumber daya alamnya lebih suka mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya. Lantas, kemanakah larinya bulir-bulir padi yang dirawat oleh para petani itu? Aku sungguh tak mengerti dengan cara kerja di negeri ini.

Harus diakui, saat ini kita bukan lagi negara yang bisa berbangga atas swasembada berasnya. Tak seperti dulu lagi. Namun, dulu pun kita pernah punya pengalaman pahit akan beras. Ketika itu, kalender menunjukkan awal tahun 1963. Terdengar kabar bahwa di DKI Jakarta ada masalah dengan penanganan persediaan beras. Menipisnya persediaan beras terjadi karena terlambatnya pengisian gudang, dan akibatnya; harga beras melonjak. Seorang Kepala Staf Angkatan Kepolisian yang baru saja ditugaskan di Jakarta mendapat perintah langsung dari Wakil Menteri Pertama agar bertindak. Pejabat Kepolisian itu segera mengambil tindakan, pasar-pasar dirazia, beras yang dijual mahal segera disita. Akibatnya lebih parah, beras hilang dari pasaran. Rakyat kecil tidak mampu membeli beras. Hanya orang-orang kaya dan tuan-tuan besar yang sanggup membelinya lewat jalan belakang dan bisik-bisik dan dengan harga yang amat tinggi. Syukurlah, kesimpangsiuran dalam mengambil tindakan itu segera diketahui oleh Presiden.

Agak pusing juga aku memikirkan kisah negeri ini. Meski aku bukan orang penting, tapi wajar kan bila aku juga ikut pusing memikirkannya? Toh aku lahir dan dibesarkan di negeri ini. Ah, mari kita redakan saja carut-marut kegelisahan ini dengan membuka bekal istimewa dari orang yang istimewa pula. Namanya Wasinah, dia kembang desa. Wajahnya manis, berkulit sawo matang dengan aroma khas gadis tropis. Aku begitu menggilainya. Manis senyumnya seperti gula kelapa yang dibuat oleh penduduk lokal sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan di desa ini. Matanya bening, sebening sumber-sumber air yang kini tlah digerogoti oleh perusahaan air mineral terkenal di negeri ini. Hanya bedanya, bening mata gadisku itu tak kan bisa terbeli oleh apapun. Cah ayu, tak sabar lagi aku menunggu musim panen tiba. Untuk segera menyuntingmu, dan menjadikanmu ibu dari anak-anakku nanti.

Baiklah, kubuka saja bekal darimu untuk menentramkan hatiku. Harum nasi berbungkus daun ini benar-benar menggambarkan hatimu. Meskipun nasinya agak berwarna kekuning-kuningan, tapi karena itu hasil olahan tanganmu, pasti akan kutelan juga. Belum lagi sambal dan ikan asinnya yang selalu membuaiku dalam mimpi. Tak dapat kubayangkan bagaimana bahagianya hidupku kelak ketika kita sudah menikah. Tenang saja, tak perlu kau pusingkan tentang beras impor itu. Kita tak membutuhkannya. Percayalah, kita masih bisa makan beras yang kita tanam sendiri di negeri ini. Negeri ini kaya. Kita tak butuh mengimpor garam, gula, kedelai dan apapun itu. Semuanya ada di sini, di negeri yang seperti surga ini. Sayangnya, negeri yang katanya seperti tanah surga ini sedang dimonopoli oleh imperialisme dan kolonialisme perniagaan. Pemerintahan dari rakyat dan oleh rakyat tidak akan sehat jika ada kepincangan seperti itu. Tapi tenang saja, kita akan tetap makan dari apa yang kita tanam dan hasilkan sendiri di tanah dan laut negeri ini. Satu hal yang harus kau tau Wasinah, aku mencintaimu seperti aku mencintai negeri ini. Tak pernah terganti.


TAGS #30HariNonstopNgeblog Dblogger Sejarah Kolonialisme Perdagangan


-

Author

Follow Me