Kabut Hitam di Bola Matamu

6 Sep 2013

Kalender usang di kamarku sudah menunjukkan hari ke-6 bulan September. Yah, ternyata sudah memasuki bulan September. Bulan yang paling kau takuti selama ini. Bulan yang paling kau harapkan tak pernah ada. Bulan yang merenggut sebagian kisah masa kecilmu. Bulan yang katanya orang-orang adalah bulan berdarah. September selalu mengingatkanku padamu. Aku tahu, hidup kadangkala memang bermain kejam dan tak sebahagia seperti mimpi kita semasa kecil. Ikhlaskanlah, mungkin itu adalah kuasa Tuhan untuk membuatmu kuat. Seperti saat ini, bagiku kau adalah kawan masa kecilku yang paling kuat. Cuma kamu satu-satunya kenangan masa kecilku yang paling tangguh ketika harus menjalani ritual menonton film itu. Aku tahu, menonton film itu hanya akan membawa kenangan yang tak pernah engkau harapkan. Hanya akan menorehkan luka yang semakin perih. Hanya akan membuat pandangan orang sinis padamu. Tapi tenanglah, aku ada disini untukmu. Menguatkanmu dengan doa-doaku.

Kita memang terpisah ratusan kilometer jauhnya. Tapi aku masih ada disini, mengingatmu, dan merindukanmu. Aku juga masih ada disini untuk menguatkanmu di bulan yang berkabut ini. Bulan yang membawa orang-orang tercinta kemudian mengembalikannya menjadi kabut. Ya, seperti kabut. Ada dan terlihat, namun tak lagi sama seperti dulu. Ada yang berubah. Menjadi dingin, gelap, tak tersentuh, datang dan pergi. Benar-benar kelam seperti kabut. Ya, mereka yang kau cintai berubah seperti kabut. Bersabarlah, mungkin itu adalah luapan hati yang tak bisa disampaikan dengan kata-kata. Terpendam sekian lama untuk bermuara ke tempat yang merdeka. Atau mungkin itu adalah air mata yang telah terpendam sekian tahun dan hanya bisa meleleh hanya dalam bentuk kabut. Sudahlah, ini memang cara yang dihadirkan Tuhan untukmu. Untuk orang-orang tercinta di sekitarmu. Nikmatilah itu semua. Mungkin mereka menemukan kemerdekaannya dengan kabut-kabut yang kelam dan hitam itu.

Apa kau kini masih belum bisa menikmati bulan September? Bagimu, lagu ‘September Ceria’ itu hanyalah omong kosong bukan? Menurutmu itu adalah sebuah kamuflase yang sempurna. Ya, sesempurna negara ini menutup-nutupi sejarahnya yang kelam. Ah, bukankah kita semua tahu bahwa negeri ini memang masih simpang siur dengan sejarahnya sendiri. Ada banyak hal yang masih belum dibuka untuk kita. Entah kapan kita akan menikmati cerita-cerita yang jujur tentang negeri ini.

Hey, kau yang ada disana, tersenyumlah untukku! Jangan gundah hanya karena kita harus melewati bulan ini. Aku tahu, kenangan takkan mungkin terhapus dengan mudah. Setidaknya, kau harus tetap tersenyum bahagia. Lihat matamu! Ambilah cermin itu dan lihatlah! Matamu selama ini diselimuti kabut. Memang tak mudah untuk menghilangkannya, tapi setidaknya kau harus mencobanya. Mencoba untuk menghalau kabut itu agar tak bersemayam di matamu. Aku takut tak bisa mengenalimu lagi seperti dulu. Aku takut tak lagi bisa melihatmu tersenyum lagi. Bulan September di tahun itu memang tak kan pernah terhapus dari sejarah negeri ini, juga tak akan mungkin terlupakan olehmu dan orang-orang yang kau cintai. Tapi, aku yakin kau kuat. Aku juga yakin, kamu tetap berusaha untuk menghalau kabut hitam itu dari matamu…


TAGS #30HariNonstopNgeblog Dblogger Sejarah Kelam Kabut Hitam Kenangan Monolog


-

Author

Follow Me