Gegap Gempita Jember Fashion Carnaval

25 Aug 2013

Dokumentasi by Vj Lie

Dokumentasi by Vj Lie

Beberapa tahun terakhir ini nama Jember langsung meroket gara-gara Jember Fashion Carnaval (JFC). Bahkan jauh diatas perkiraan rakyat Jember sendiri. Tak lagi secara nasional tapi sudah mencapai tingkat internasional. JFC sendiri sekarang ini dianggap sebagai icon Fashion dan Carnaval Indonesia dan telah berhasil meraih peringkat 4 karnaval terunik dan terheboh di dunia. Wow, sebuah prestasi yang spektakuler di tengah rawannya ancaman kelestarian alam di beberapa wilayahnya. Sebuah kondisi yang kontras di dua bidang yang sama-sama berbeda.

Dokumentasi oleh Vj Lie

Dokumentasi oleh Vj Lie

Keberadaan JFC dan sepak terjangnya yang semakin mendunia, membuat banyak perubahan di Jember. Tentu saja, dibalik kecemasan-kecemasan para pejuang kelestarian alam, JFC berjalan mulus tanpa suatu hambatan yang pasti karena mendapat dukungan dari berbagai pihak penyelenggara negeri. Tak dapat dipungkiri, keberadaannya memang digadang-gadang mampu merubah Jember menjadi kota yang semakin maju dan dikenal di seluruh penjuru bumi. Sayangnya, eksistensinya seakan membunuh romantisme masyarakat Jember dengan nostalgia karnaval rakyat yang mengusung kearifan lokal. Beberapa desa masih menolak lupa dengan menyelenggarakan karnaval umum yang dibuat dan dinikmati sendiri. Sederhana dan prihatin melihat sebuah usaha untuk mempertahankan ritual karnaval desa yang hangat di tengah gempuran JFC yang semakin mendunia dan asing bagi rakyatnya sendiri.

Dokumentasi oleh Vj Lie

Dokumentasi oleh Vj Lie

Gelaran JFC yang ke XII ini diselenggarakan mulai tanggal 20-25 Agustus 2013.Dikemas dalam JFC Internasional Event di Jember yang mengusung tema Artechsion Art meet Technology and Illusion. Dipisah menjadi beberapa bagian yakni Painting Exhibition, Photo Exhibition dan Culinary Exhibition. Untuk show timenya dibagi menjadi Kids Carnival. Art Wear Carnival dan Grand Carnival. Waktu yang cukup lama dibandingkan gelaran JFC pada tahun-tahun sebelumnya. Selain itu juga memusingkan beberapa masyarakat dengan istilah-istilah aneh yang mungkin baru pertama kali ini mereka dengar. Namun setidaknya benar-benar memuaskan fotografer baik dikalangan nasional maupun mancanegara. Bahkan kameramen National Geographic pun tak mau ketinggalan untuk mengabadikan moment ini dalam sebuah film dokumenter berdurasi 24 menit.

Dokumentasi oleh Mas Riyadi Ariyanto

Dokumentasi oleh Mas Riyadi Ariyanto

Di balik gegap gempita dan riuhnya perhelatan ini di mata dunia, banyak permasalahan yang seolah dianggap tidak ada di wilayahnya sendiri. Semua masalah yang kronis seakan terabaikan dan tak terdengar, tertutup oleh genderang megahnya JFC. belum lagi seusai acara, jalanan antara alun-alun sampai Gor PKPSO Jember (Jalur catwalk JFC) menjadi lautan sampah yang tak terbendung. Meminjam istilah dari seorang kawan ( M. Afwan), penonton kedua JFC setelah manusia adalah sampah. Hal tersebut merupakan sebuah polemik yang tak pernah selesai dari tahun ke tahun. Selalu saja seperti itu dan tanpa ada solusi. Solusi lebih diserahkan pada pasukan kuning yang jumlahnya hanya beberapa saja. Bukankah itu adalah gambaran betapa tumpulnya kesadaran kita tentang sampah dan tetek bengeknya. Semua pengunjung seolah acuh dan tak bisa mengelola sampahnya sendiri karena sudah ada pasukan kuning. Menyedihkan. Inilah sisi-sisi lain yang muncul di balik gegap gempita Jember Fashion Carnaval.

Ilustrasi By M. Afwan

Ilustrasi By M. Afwan

Dari sisi kretifitas, JFC memang layak diacungi jempol. Hal ini tak bisa lepas dari sosok Dynand Fariz, putra daerah Jember yang mampu membuat ide JFC yang begitu luar biasa. Saya pribadi salut dengan usaha keras dan kreatifitasnya untuk membuat Jember bisa mendunia bahkan menempati urutan ke 4 festival terbaik dunia. Namun hal tersebut akan sangat bijak bila dibarengi dengan keterbukaan untuk menerima ide dari masyarakat untuk memunculkan kearifan lokal Jember, serta menempatkan jurnalis lokal setara dengan jurnalis nasional maupun internasional. Peran media lokal seolah tertutupi oleh gemerlapnya media-media internasional. Semoga tulisan ini mampu menjadi kritik terbuka untuk JFC. Kritik tidaklah lahir dari sebuah kebencian, tapi cintalah yang melakukannya. Hal tersebut merupakan upaya untuk saling mengingatkan demi mewujudkan keinginan yang selaras antara penyelenggara, pemerintah, dan masyarakat Jember sendiri. Sukses selalu untuk JFC. Salam lestari…

Dokumentasi oleh Vj Lie

Dokumentasi oleh Vj Lie


TAGS Dblogger #30HariNonstopNgeblog Jember Fashion Carnaval


-

Author

Follow Me