Telaah Pembacaan Tanda dalam Puisi Pelangi ‘kan Datang 20 Mei 2013
Posted by Prit Punya Cerita in Kontes.Tags: Pembacaan Tanda, 2nd Giveaway Enny Mamito
1 comment so far
Puisi merupakan salah satu bentuk karya sasta yang terikat dalam baris dan bait. Namun seiring dengan perkembangannya, deskripsi tersebut mulai berubah. Sekarang, bentuk puisi modern lebih fleksibel dan bebas. Tak harus memenuhi keterikatan dengan bait, baris maupun rima. Bentuk perwajahan topografinya pun beragam dan tentu saja memiliki karakteristik serta nilai filosofis khusus. Dalam hal ini, pengarang dan latar belakangnya mempunyai peranan penting dalam proses penciptaannya.
Dalam Pelangi ‘kan Datang, Mbak Enny mencoba menaburkan beberapa tanda untuk mengungkapkan beberapa pesan yang memang sengaja disembunyikan dalam untaian kata. Jika kita mencermatinya secara dalam, ada pesan yang ingin diungkapkan oleh pengarang dalam puisinya. Dalam puisi tersebut, Mbak Enny tak hanya sekedar menulis dan memberikan beberapa kiasan. Namun, ada banyak pesan yang ingin diungkapkan tanpa mengurangi keindahan struktur dari puisi itu sendiri. Di sinilah kelihaian meramu kata dari pengarang terlihat. Ada ketegasan, kesedihan dan harapan. Namun semuanya digambarkan dengan bahasa yang indah dan dalam.
angin menerbangkan daun
melayang
menggetarkan
angin membisikkan cerita
menyayat
membuat luka
mungkin hempasan badai
kan cukup memusnahkan luka hati
mungkin pelangi kan datang
setelah hujan tak bersisa
aku menunggunya
menunggu pelangi tiba
penuh warna
ceria
tak menggores luka
aku percaya pelangi kan datang
setelah hujan badai hilang
Tanda pertama yang digunakan membuka puisi ini adalah angin. Dalam arti yang sebenarnya, angin adalah udara yang bergerak. Tak berbentuk, namun memiliki tekanan tertentu. Kita bisa merasakannya, ada yang sepoi-sepoi namun ada juga yang kencang. Secara sederhana, angin merupakan udara yang berhembus. Kata daun pada baris pertama, /angin menerbangkan daun / merupakan penggambaran atas kepercayaan. Dalam arti yang sebenarnya, daaun merupakan bagian penting dalam sebuah pohon. Semakin rimbun daunnya, maka akan semakin sejuk ketika kita bernaung di bawahnya. Daun sendiri adalah simbol kedua yang menjelaskan masalah. Hal yang menarik dalam puisi ini adalah, pengarang mencoba mengungkapkan permasalahannya di awal. Langsung dan tegas tanpa memerlukan perantara yang bertele-tele untuk menuju pada sebuah permasalahan. Disini digambarkan bahwa angin adalah subyek yang mampu menghembuskan dan menerbangkan sebuah kepercayaan. (lagi…)
Tambang Emas : Menambang Emas dan Petaka 19 Mei 2013
Posted by Prit Punya Cerita in Kontes.Tags: #8MingguNgeblog, Minggu Keenam, Anging Mamiri
2 comments
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.
Tambang emas. Hal tersebut sudah tak asing lagi di telinga kita. Apakah karena telinga kita sedang memakai sebuah anting emas, sehingga membuatnya sudah tak asing lagi? Atau karena kita punya investasi berupa emas? Ataukah karena banyak kita dengar seputar pro dan kontra tentang keberadaannya di Indonesia? Ah, semuanya adalah alasan yang sangat masuk akal untuk kita telaah lebih dalam lagi. Ya, pada kenyataannya tambang emas memang sudah menjadi sesuatu yang biasa dan tak asing lagi bagi kita. Apalagi dengan banyaknya perusahaan pertambangan asing yang mulai numpang tenar di beberapa skenario film-film Indonesia bertemakan lingkungan. Mungkin karena mereka menggelontorkan beberapa dana yang cukup besar untuk memproduksi fim-film yang bertemakan lingkungan tersebut.
Bicara tentang tambang emas, mau tidak mau kita harus menelaahnya dari berbagai sisi. Ada dua sisi yang menonjol yang perlu kita ketahui bersama. Karena dua sisi ini sangat lekat dengan kehidupan masyarakat kita. Sisi ekonomi dan sisi ekologi.
Tambang Emas Dilihat dari Sisi Ekonomi
Kita tak kan pernah bisa menyangkal bahwa awal dari keberadaan pertambangan logam mulia ini adalah karena faktor ekonomi. Emas banyak digunakan sebagai investasi jangka panjang. Bahkan, bisa juga mempengaruhi laju inflasi. Logam emas juga disepakati sebagai standart keuangan di banyak negara. Dengan berinvestasi berupa emas diyakini merupakan cara yang aman dan selalu menguntungkan. Tak jarang, banyak oknum-oknum yang melakukan penimbunan emas. Selain itu, logam mulia ini juga diperlukan dalam perangkat lunak beberapa barang elektronik dan sebagai perhiasan bagi kaum hawa.
Mengapa seorang perempuan selalu diidentikan dengan perhiasan yang mewah? Entahlah, sepertinya ini adalah sebentuk budaya yang muncul dan kemudian diamini oleh sebagian orang. Budaya mewah yang mungkin sudah melampaui batas. Karena sebenarnya pemanfaatan emas yang merupakan suatu sumber daya alam adalah menurut batas kebutuhan. Jika sudah dianggap melampaui batas kebutuhan, hal tersebut sudah naik ke tingkat keinginan. (lagi…)
Cinta Pertamaku Tertinggal Di Bangku Pojok Kelas 8 Mei 2013
Posted by Prit Punya Cerita in Kontes.Tags: #8MingguNgeblog, Minggu Kelima, Cinta Pertama, Anging Mamiri
3 comments
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima.
Cinta pertama, sudah berapa lama ya kenangan itu tak menguap di permukaan? Aku tak tahu kapan tepatnya. Tapi semua itu masih terlintas jelas dalam lembaran kenanganku.
Semuanya berawal dari seorang murid pindahan bernama Arif Mahfudin. Waktu itu kita masih kelas 4 SD. Masih terlampau kecil untuk mengerti apa itu cinta. Yang kami tahu, saat itu adalah kenyamanan dalam berteman. Ceritanya, karena masih baru si Arif Mahfuddin ini pendiam dan pemalu sekali. Wajar, karena dia belum kenal dekat dengan teman sekelas. Kebetulan lagi, si Arif ini disuruh duduk sebelahku. Jadilah aku dan Arif menjadi teman sebangku. Menempati bangku paling pojok bagian belakang.
Kala itu, kita belumlah mengerti tentang apa itu cinta. Yang paling kita mengerti adalah bagaimana memanfaatkan jam istirahat untuk bermain ‘lintang ngaleh’ sepuasnya. Yang paling kita pahami adalah berhamburan di halaman sekolah saat bel pulang berbunyi, kemudian duduk di trotoar sambil menunggu becak jemputan. Ya, dunia ini hanya dipenuhi dengan bermain dan terus bermain. Tentang bagaimana kita bersembunyi untuk keluar lewat pintu belakang sekolah menuju pemandian goa ngerong. Ah, itu masa-masa yang tak kan pernah kita ulang lagi bukan? Berlarian di taman belakang sekolah, senam SKJ di warung Mak Min, sampai corat-coret di bangku paling pojok yang kita tempati waktu itu. Mengingatnya, selalu membersitkan tawa tersendiri bagiku.
Masih ingatkah, saat 17 Agustus tiba? Bagiku itu adalah masa yang sangat menyebalkan. Karena hampir tiap tahun selalu ada karnaval sekolah yang wajib kita ikuti. Saat itu kita mendapatkan peran untuk memakai baju adat propinsi Bengkulu.
Kenangan Itu Berwarna Kuning 5 Mei 2013
Posted by Prit Punya Cerita in Kontes.Tags: #8MingguNgeblog, Minggu Keempat, Kuning, Warna Favorit
5 comments
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.
Saat baru lahir, sebelum digedong nenek memakaikan baju dan popok dengan gambar bunga-bunga kuning pada tubuh mungilku. Kemudian, saat tidur ataupun jalan-jalan aku memakai selimut putih dengan kombinasi warna kuning di setiap sisinya. Tiba-tiba saja, semua koleksi bajuku berwarna kuning. Selimut, perlak tidur, sarung bantal dan guling, kaos kaki, celemek makan, semuanya berwarna kuning. Ya, tiba-tiba saja hidupku didominasi warna kuning. Aku tak mengelak dan menikmatinya sampai sekarang.
Memasuki masa sekolah, Bob dan Ibu mengenalkan banyak warna pada baju dan semua yang ada di sekelilingku. Tapi, aku merasa sangat nyaman dengan kuningku. Ada rasa gembira yang meluap-luap saat aku memakai ataupun membawa benda yang berwarna kuning. Ya, semuanya mengalir begitu saja.
Kegilaanku terhadap warna kuning semakin menjadi ketika aku tahu bahwa warna favorit Didi Riyadi (drummer band Elemen) adalah kuning. Sewaktu Elemen mengadakan konser di kota kecilku. Aku menguningkan tubuhku, memakai semua hal yang berwarna kuning mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tak ada celah yang luput, kecuali warna kulitku yang memang sudah kuning langsat dari sononya,hahah.
Selalu merasa antusias ketika melihat sesuatu yang berwarna kuning itulah aku. Namun seiring berjalannya waktu, ketika masa-masa kuliah, baju warna kuning hanya memenuhi lemari dan menjadi warna wajib peralatan kuliah mulai dari pensil, pulpen, binder, tipe-x, dan lain-lain. Aku masih kurang percaya diri ketika ingin memakai baju berwarna kuning. Sepertinya, akan menarik banyak perhatian dan terlalu mencolok dipandang mata. Itu terjadi di semester 1-3 kuliah. Maklum, masih proses adaptasi dengan lingkungan baru. Jadi, rasa percaya diri perlu dibangun sedikit demi sedikit.
Pada tanggal 21 Juni tahun 2007, kota perantauanku sedang dalam cuaca yang cerah. Sekuning hatiku, ketika mendapatkan kado ulang tahun istimewa dari pacar (sekarang suami). Ya, boneka mungil berwarna kuning dengan corak hitam di bagian mata dan hidungnya kemudian memakai bandana bercorak putih biru di bagian lehernya. Aku masih mengingatnya sampai sekarang. Kemudian pada 21 Juni tahun 2009, dia memberikanku hadiah masih dengan warna yang sama namun bentuk yang berbeda. Ya, sebuah kaos cantik berwarna kuning dengan gambar seorang gadis kecil berkuncir dua. Ah, manis sekali. Memakai dan memegang benda-benda tersebut selalu membuatku berbunga-bunga.
Oh ya hampir lupa, sewaktu kuliah semester 4 aku pernah berdiam diri di kamar kos karena terkena penyakit kuning parah. Semua kakak kos tak bisa mendeteksi penyakit tersebut dari awal. Semuanya mengira demam biasa, tapi lemesnya sampai berhari-hari. Mbak Anis baru bisa mendeteksinya ketika aku sedang keluar dari kamar mandi. Mbak Anis terkejut karena melihat mataku yang menguning. Dia langsung membawaku periksa, dan akhirnya mengantarku test darah. Hasil test tersebut membuatnya terkejut, karena ternyata SGOT ku tinggi. Selama perjalanan Mbak Anis ngomel-ngomel dan bilang kalau telat deteksi penyakit tersebut disebabkan karena kamar kosku yang dipenuhi warna kuning jadi banyak yang mengira warna kuning di mataku disebabkan karena pancaran warna kelambu dan selimutku yang terang dan mencolok,haha,.
Pada tanggal 15 Bulan sebelas di tahun 2011 kami menikah secara sederhana. Suami memberiku mas kawin berupa seperangkat alat sholat yang dibungkus cantik dan ditata sedemikian rupa dengan ornamen-ornamen cantik berwarna kuning. Begitu mengharukan melihatnya. Setelah menikah, kami menempati rumah mungil dengan kamar dan ruang tamu yang dicat kuning. Bahagia menyeruak ketika memasuki ruangan tersebut. Rasanya setiap kenanganku dibingkai manis dengan warna kuning.
Aku tahu langit itu berwarna biru, dan hijau itu milik pepohonan. Namun, aku juga tak pernah menyalahkan putaran masa ketika kuning membingkai manis setiap kenangan dalam kehidupanku. Aku suka kuning, sama halnya ketika dia memilih untuk melekatkan diri dalam setiap kenanganku. Terima kasih atas kuningmu Tuhan…
![]()








